Kasus Covid-19 di Korea Selatan mulai mengkhawatirkan

Pejabat kesehatan Korea Selatan memperingatkan penduduknya mengenai kemungkinan potensi lockdown di tengah meningkatnya infeksi virus corona yang mengkhawatirkan. Mereka juga mengimbau agar warga mematuhi aturan pembatasan dengan serius.

Korsel merupakan salah satu role model perihal penanganan Covid-19. Awal tahun ini, Negeri Ginseng dipuji oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena berhasil menghentikan penyebaran awal wabah mematikan tersebut.

Meskipun termasuk salah satu negara pertama yang terpapar virus, Korsel berhasil menghindari segala jenis lockdown ketat yang telah diterapkan berbagai negara. Sebagian orang mengatakan Korsel berhasil menekan virus karena mengkombinasikan antara pengujian agresif dengan teknik dan pelacakan yang canggih.

Tapi seiring berlanjutnya pandemi hingga memasuki musim dingin, Korsel mulai menghadapi gelombang ketiga infeksi Covid-19 dengan peningkatan infeksi baru yang sulit dilacak.

Dikutip dari CNN, Rabu (16/12), pejabat senior Kementerian Kesehatan Yoon Tae-ho mendesak orang-orang untuk berpartisipasi penuh menerapkan menjaga jarak sosial di wilayah Seoul.

Pembatasan di Seoul saat ini berada di level 2,5 pada skala negara, di mana level 3 menandakan lockdown secara de facto.

Yoon mengatakan saat ini para pejabat sedang berkonsultasi dengan para ahli, pemerintah daerah, dan komite kerja anti-virus tentang apakah akan menaikkan pembatasan ke level 3.

Langkah itu kemungkinan besar akan berefek pada “perubahan sosial yang besar’. Salah satunya, dia memperingatkan, dapat berakibat menimbulkan kerugian bagi bisnis kecil dan wiraswasta.

Pada Rabu, pejabat Wali Kota Seoul Seo Jung-hyup memperingatkan bahwa kapasitas ruangan rumah sakit di Seoul mulai berkurang, di mana 77 dari 78 tempat tidur ICU telah ditempati oleh pasien Covid-19.

Menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins, kasus di Korea Selatan terus meningkat sejak pertengahan November. Negara itu kemudian perlahan-lahan memberlakukan lebih banyak pembatasan dan aturan jarak sosial.

Pekan lalu, personel militer dan polisi dikerahkan untuk membantu upaya pelacakan kontak. Sementara pusat pengujian memperpanjang jam kerja mereka hingga larut malam dan akhir pekan untuk meningkatkan pengujian yang lebih luas di wilayah Seoul.

Selain mengancam bisnis kecil, pembatasan level 3 juga dapat mengakibatkan sekolah dan gereja dipaksa memindahkan operasionalnya secara daring.

Menurut lembaga penyiaran publik, KBS, setidaknya ditemukan satu klaster di Seoul yang terhubung dengan aktivitas gereja.

“Gereja mengadakan pertemuan empat kali dalam seminggu selama tujuh pekan di ruang tertutup untuk jangka waktu yang lama, dalam artian kemungkinan penyebaran droplet di antara orang sangat tinggi. Kami sedang menyelidiki masalah ini lebih lanjut,” kata pejabat kesehatan setempat, Park Yoo-mi kepada KBS.

Sumber : CNN Indonesia

(Visited 138 times, 1 visits today)

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.